Asap Karhutla Meluas di Kaltim, Dinkes Waspadai Gangguan Pernapasan

Terkini 11 Sep 2026 10:20 3 min read 1,306 views By Haikal

Share berita ini

Asap Karhutla Meluas di Kaltim, Dinkes Waspadai Gangguan Pernapasan
Podcast The Voice of Tropical Rainforest: Identifikasi Risiko Kesehatan Masyarakat dan Strategi Sikap serta Ketahanan Komunitas, Rabu (09/09/2026).

Samarinda - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan, terutama penyakit pada saluran pernapasan.

Ketua Tim Kerja Surveilans, Imunisasi dan Respons KLB Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim, Erwin Nursyahram Danie, SKM, mengatakan dalam beberapa bulan terakhir terdapat perubahan dan peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan.

Beberapa penyakit yang masuk dalam pemantauan antara lain asma bronkial, pneumonia, tuberkulosis (TBC), serta berbagai gangguan pernapasan lainnya.

Meski demikian, peningkatan kasus tersebut belum dapat secara langsung disimpulkan sebagai dampak karhutla. Dinkes Kaltim masih melihat berbagai kemungkinan penyebab yang dapat memengaruhi naik-turunnya kasus penyakit pernapasan.

"Tidak serta-merta apakah ini disebabkan oleh kebakaran hutan, kami belum tahu, karena banyak sebabnya," kata Erwin dalam podcast The Voice of Tropical Rainforest: Identifikasi Risiko Kesehatan Masyarakat dan Strategi Sikap serta Ketahanan Komunitas yang digelar pada Rabu (09/09/2026).

Kewaspadaan terhadap dampak karhutla sebenarnya telah dilakukan Dinkes Kaltim sebelum paparan asap semakin meluas. Erwin menjelaskan, pemantauan dan langkah kesiapsiagaan mulai dilakukan sejak Juni ketika kondisi kekeringan mulai menjadi perhatian.

Pada akhir Juli hingga awal Agustus, Dinkes Kaltim juga meneruskan surat edaran mengenai kesiapsiagaan menghadapi kondisi kekeringan kepada pemerintah kabupaten dan kota.

Memasuki akhir Agustus, ketika asap mulai semakin banyak dirasakan, kewaspadaan terhadap dampak karhutla kemudian ditingkatkan.

Sejumlah wilayah yang disebut terdampak karhutla antara lain Kutai Barat, Kutai Timur dan Berau. Dinkes Kaltim bersama sejumlah pihak dari pemerintah pusat kemudian turun ke lapangan untuk membagikan masker sekaligus memberikan imbauan kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut antara lain dilakukan di Kutai Kartanegara, Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Dinkes Kaltim juga berencana melanjutkan kegiatan serupa ke sejumlah kabupaten dan kota lain yang mengalami dampak karhutla lebih luas.

Di sisi lain, laporan kesehatan yang diterima Dinkes Kaltim hingga saat ini lebih banyak menunjukkan persoalan pada saluran pernapasan. Belum terdapat laporan peningkatan kasus penyakit mata yang secara khusus dikaitkan dengan dampak karhutla.

Erwin juga mengungkapkan adanya satu laporan kematian di Kabupaten Kutai Barat. Namun, Dinkes Kaltim belum menganalisis lebih jauh apakah kematian tersebut berkaitan langsung dengan karhutla.

Warga yang meninggal tersebut merupakan lanjut usia dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid, termasuk riwayat penyakit saluran pernapasan. Karena itu, penyebab kematian belum dapat langsung dikaitkan dengan paparan asap karhutla.

Sementara itu, Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Siswanto, M.Kes, mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kelompok masyarakat yang lebih rentan.

Kelompok tersebut antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta seperti asma dan penyakit jantung.

Menurut Siswanto, risiko pada kelompok usia lanjut perlu diperhatikan karena terjadi penurunan fungsi organ seiring bertambahnya usia. Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat tidak selalu merasakan atau menilai risiko kesehatan dengan cara yang sama.

Keluhan gangguan pernapasan, kata dia, lebih sering dirasakan dan disadari dibandingkan dampak lainnya. Karena itu, perlindungan diri menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

"Saat aktifitas di luar rumah dihimbau untuk menggunakan masker, kalau bisa masker N95 sebagai masker yang mengikuti standar kesehatan untuk perlindungan terhadap paparan asap," ucap Siswanto.

Perlindungan juga perlu diberikan kepada petugas yang berada di lapangan, termasuk personel yang terlibat dalam penanganan kebakaran. Mereka menghadapi paparan panas, asap dan kelelahan selama menjalankan tugas.

Dengan semakin meluasnya paparan asap, kewaspadaan terhadap kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Meski peningkatan penyakit pernapasan belum dapat secara otomatis disebut sebagai akibat karhutla, kondisi tersebut tetap menjadi alasan untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Warta Kaltim
Chat with us on WhatsApp